Selasa, 09 Juni 2009

SAAD BIN ABI WAQASH 0

.
0 komentar

Singa yang Menyembunyikan Kukunya


Allah SWT berfirman, "Dan Kami wasiatkan (perintahkan) kepada manusia supaya berbuat baik kepada ibu bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dengan menderita kelemahan diatas kelemahan dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada ibu bapakmu! Kepada-Ku tempat kembali. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." (QS. Luqman: 14-15)

Ayat-ayat yang mulia ini mempunyai latar belakang kisah tersendiri dan mengejutkan; menyebabkan satu golongan diantara dua golongan yang bertentangan jatuh terbanting, berhubungan dengan pribadi seorang pemuda lemah lembut. Akhirnya kemenangan berada di pihak yang baik dan beriman.

Tokoh kisah ini ialah seorang pemuda Makkah, keturunan terhormat, dan dari ibu bapak yang mulia. Nama pemuda itu Sa'ad bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu.

Tatkala cahaya kenabian terpancar di kota Makkah, Sa'ad masih muda belia, penuh perasaan belas kasih, banyak bakti kepada ibu bapak, dan sangat mencintai ibunya. Walaupun Sa'ad baru menjelang usia 17 tahun, namun dia telah memiliki kematangan berpikir dan kedewasaan bertindak. Dia tidak tertarik kepada aneka macam permainan yang menjadi kegemaran pemuda-pemuda sebayanya. Bahkan dia mengarahkan perhatiannya untuk bekerja membuat panah, memperbaiki busur, dan berlatih memanah, seolah-olah dia sedang menyiapkan diri untuk suatu pekerjaan besar. Dia juga tidak puas dengan kepercayaan/ agama sesat yang dianut bangsanya, serta kerusakan masyarakat, seolah-olah dia sedang menunggu uluran tangan yang kokoh kuat, penuh kasih sayang, untuk merubah keadaan gelap gulita menjadi terang benderang.

Sementara itu, Allah 'Azza wa Jalla menghendaki akan menaikkan harakat kemanusiaan yang telah merosot secara keseluruhan dan merata, melalui pribadi yang belas kasih itu, yaitu melalui penghulu segala makhluk, Muhammad bin Abdillah. Dalam genggamannya memancar sinar petunjuk keutuhan yang tidak tercela, yaitu Kitabullah.

Sa'ad segera memenuhi panggilan yang berisi petunjuk dan hak ini (agama Islam), sehingga dia tercatat sebagai orang ketiga atau keempat yang masuk Islam. Bahkan dia sering berucap dengan penuh kebanggaan, "Setelah aku renungkan selama seminggu, maka aku masuk Islam sebagai orang ketiga."

Rasulullah saw sangat bersuka-cita dengan islamnya Sa'ad. Karena beliau melihat pada pribadi Sa'ad terdapat ciri-ciri kecerdasan dan kepahlawanan yang menggembirakan. Seandainya kini ia ibarat bulan sabit, maka dalam tempo singkat ia akan menjadi bulan purnama yang sempurna.

Keturunan dan status sosialnya yang mulia dan murni, melapangkan jalan baginya untuk mengajak pemuda-pemuda Makkah mengikuti langkahnya masuk Islam seperti dirinya. Di samping itu sesungguhnya Sa'ad termasuk paman Nabi saw. juga. Karena dia adalah dari Bani Zuhrah sedangkan Bani Zuhrah adalah keluarga Aminah binti Wahab, ibunda Rasulullah saw.

Rasulullah saw. sangat membanggakan pamannya. Pernah diceritakan, suatu ketika beliau sedang duduk-duduk beserta beberapa orang sahabat. Tiba-tiba beliau melihat Sa'ad bin Abi Waqqash datang. Lalu beliau berkata pada para sahabat yang hadir, "Inilah pamanku. Coba tunjukkan padaku siapa yang punya paman seperti pamanku!"

Tetapi, Islamnya Sa'ad tidak langsung memberikan kemudahan yang mengenakkan baginya. Sebagai pemuda muslim, dia ditantang dengan berbagai tantangan, ujian, serta cobaan-cobaan berat dan keras. Ketika cobaan-cobaan itu telah sampai dipuncaknya, Allah SWT menurunkan wahyu mengenai peristiwa yang dialaminya. Marilah kita dengarkan kisahnya.

Sa'ad bercerita, "Tiga malam sebelum aku masuk Islam, aku bermimpi, seolah-olah aku tenggelam dalam kegelapan yang tindih menindih. Ketika aku sedang mengalami puncak kegelapan itu, tiba-tiba aku lihat bulan memancarkan cahaya sepenuhnya lalu kuikuti bulan itu. Aku melihat tiga orang telah lebih dahulu berada dihadapanku mengikuti bulan tersebut. Mereka itu adalah Zaid bin Haritsah, Ali bin Abi Thalib dan Abu Bakar As-Shiddiq, aku bertanya kepada mereka, "Sejak kapan anda bertiga disini?" Mereka menjawab, "Belum lama." Setelah siang hari, aku mendapat kabar, Rasulullah saw. mengajak orang-orang mengajak kapada Islam secara diam-diam. Yakinlah aku sesungguhnya Allah SWT menghendaki kebaikan bagi diriku, dan dengan Islam Allah akan mengeluarkanku dari kegelapan kepada cahaya terang. Aku segera mencari beliau, sehingga bertemu dengannya pada suatu tempat ketika dia sedang salat Ashar. Aku menyatakan masuk Islam di hadapan beliau. Belum ada orang mendahuluiku masuk Islam, selain mereka bertiga, seperti yang terlihat dalam mimpiku.

Sa'ad melanjutkan kisahnya, "Ketika ibuku mengetahui aku masuk Islam, dia marah bukan kepalang. Padahal aku anak yang berbakti dan mencintainya. Ibu memanggilku dan berkata, "Hai Sa'ad! Agama apa yang engkau anut, sehingga engkau meninggalkan agama ibu bapakmu? Demi Allah Engkau harus meninggalkan agama barumu itu! Atau aku mogok makan minum sampai mati….! Biar pecah jantungmu melihatku, dan penuh penyesalan karena tindakanmu sendiri, sehingga semua orang menyalahkan dan mencelamu selama-lamanya."

Aku menjawab, "Jangan lakukan itu, Bu! Bagaimanapun juga aku tidak akan meninggalkan agamaku." Ibu tegas dan keras melaksanakan ucapannya. Beliau benar-benar mogok makan minum. Sehingga tubuh dan tulang-tulangnya lemah, menjadi tidak berdaya sama sekali. Terakhir, aku mendatangi ibu untuk membujuknya supaya dia mau makan dan minum walaupun agak sedikit. Tetapi ibu memang keras. Beliau tetap menolak dan bersumpah akan tetap mogok makan sampai mati, atau aku meninggalkan agamaku, Islam.

Aku berkata kepada ibuku, "Sesungguhnya aku sangat mencintai ibu. Tetapi aku lebih cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Demi Allah! Seandainya ibu mempunyai seribu jiwa, lalu jiwa itu keluar dari tubuh ibu sata persatu (untuk memaksaku keluar dari agamaku), sungguh aku tidak akan meninggalkan agamaku karananya."

Tatkala ibu melihatku bersungguh-sungguh dengan ucapanku, dia pun mengalah. Lalu dia menghentikan mogok makan sekalipun dengan perasaan terpaksa. Maka Allah SWT menurunkan firman-Nya kepada Nabi Muhammad saw. yang artinya, "Dan kalau keduanya memaksa engkau menyekutukan- Ku (dengan) apa yang engkau tidak ketahui jangan diturut, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik."

readmore »»

Selasa, 02 Juni 2009

Muara Cinta 0

.
0 komentar

Biarlah cinta itu bermuara dengan sendirinya


Kenapa tak pernah kau tambatkan perahumu di satu dermaga?

Padaha kulihat, bukan hanya satu pelabuhan tenang yang mau menerima kehadiran kapalmu!


Kalau dulu memang pernah ada

satu pelabuhan kecil, yang kemudian harus kau lupakan,

mengapa tak kau cari pelabuhan lain, yang akan memberikan rasa damai yang lebih?

Seandainya kau mau, buka tirai di sanubarimu, dan kau akan tahu,

pelabuhan mana yang ingin kau singgahi untuk selamanya,

hingga pelabuhan itu jadi rumahmu, rumah dan pelabuhan hatimu.


( judul puisi “Pelabuhan” karya Tyas Tatanka, kumpulan puisi 7 penyair serang )



Matanya berkaca-kaca ketika perempuan itu selesai membaca dan merenungi isi puisi itu. Dulu sekali perempuan itu telah pernah berharap pada seorang laki-laki yang dia yakin baik dan hanif, ada kilasan-kilasan di hatinya yang mengatakan bahwa mungkin dialah sosok yang selama ini dicari…dialah sosok yang tepat untuk mengisi hari-harinya kelak dalam bingkai pernikahan.

Berawal dari sebuah pertemanan. Berdiskusi tentang segala hal, terutama masalah agama. Perempuan itu sedang berproses untuk mendalami agama Islam dengan lebih intens. Dan laki-laki itu, dia paham agama, aktif diorganisasi keIslaman, dan masih banyak lagi hal-hal positif yang ada dalam diri lelaki itu. Sehingga kedekatan itu membawa semangat perempuan itu untuk terus menggali ilmu agama dan mempraktekannya dalam kesehariannya. Kedekatan itu berlanjut menjadi kedekatan yang intens, berbagi cerita, curahan hati, saling meminta saran, saling bertelpon dan ber-sms, yang akhirnya segala kehadirannya menjadikan sebuah kebutuhan. Kesemuanya itu awalnya mengatasnamakan persahabatan.

Suatu hari salah seorang sahabatnya bertanya, “ Adakah persahabatan yang murni antara laki-laki dan perempuan dewasa tanpa melibatkan hati dan perasaan terlebih bila sudah muncul rasa simpati, kagum dan kebutuhan untuk sering berinteraksi?”

Perempuan itu tertegun dan hanya bisa menjawab, “ entahlah…”

Sampai suatu hari, laki-laki itu pergi dan menghilang…Awalnya masih memberi kabar. Selebihnya hilang begitu saja. Dan perempuan itu masih berharap dan menunggu untuk suatu yang tak pasti. Karena memang tidak pernah ada komitmen yang lebih jauh diantara mereka berdua. Setiap dia mengenal sosok lelaki lainnya…Selalu dibandingkan dengan sosok laki-laki sahabatnya itu dan tentulah sosok laki-laki sahabatnya itu yang selalu lebih unggul dibanding yang lain. Dan perempuan itu tidak pernah lagi membuka hatinya untuk yang lain. Sampai suatu hari,…

Perempuan itu menyadari kesia-siaan yang dibuatnya. Ia berharap ke sesuatu yang tak pasti hanyalah akan membawa luka di hati…Bukankah banyak hal yang bermanfaat yang bisa dia lakukan untuk mengisi hidupnya kini…Air matanya jatuh perlahan dalam sujud panjangnya dikegelapan malam…Dia berjanji untuk tidak mengisi hari-harinya dengan kesia-siaan.

“ Lalu bagaimana dengan sosok laki-laki itu??” Perlahan saya bertanya padanya.

“ Saya tidak akan menyalahkan siapa-siapa, yang salah hanyalah persepsi dan harapan yang terlalu berlebihan dari kedekatan itu, dan proses interaksi yang terlalu dekat sehingga timbul gejolak dihati…Biarlah hal itu menjadi proses pembelajaran dan pendewasaan bagi saya untuk lebih hati-hati dalam menata hati dan melabuhkan hati,” ujarnya dengan diplomatis. Hingga saya menemukan perempuan itu kini benar-benar menepati janjinya.

Dunia perempuan itu kini adalah dunia penuh cinta dengan warna-warna jingga, tawa-tawa pelangi, pijar bintang di mata anak anak jalanan yang menjadi anak didiknya…Cinta yang dialiri ketulusan tanpa pamrih dari sahabat-sahabat di komunitasnya yang menjadikan perempuan itu produktif dan bisa menghasilkan karya…cinta yang tidak pernah kenal surut dari kedua orangtua dan keluarganya…Dan yang paling hakiki adalah cinta nya kepada Illahi yang selalu mengisi relung-relung hati…tempatnya bermunajat disaat suka dan duka…Indahnya hidup dikelilingi dengan cinta yang pasti.

Adakalanya kita begitu yakin bahwa kehadiran seseorang akan memberi sejuta makna bagi isi jiwa. Sehingga…saat seseorang itu pun hilang begitu saja…Masih ada setangkup harapan agar dia kembali…Walaupun ada kata-katanya yang menyakitkan hati…akan selalu ada beribu kata maaf untuknya…Masih ada beribu penantian walau tak pasti…Masih ada segumpal keyakinan bahwa dialah jodoh yang dicari sehingga menutup pintu hati dan sanubari untuk yang lain. Sementara dia yang jauh disana mungkin sama sekali tak pernah memikirkannya. Haruskah mengorbankan diri untuk hal yang sia-sia??

Masih ada sejuta asa…Masih ada sejuta makna…Masih ada pijar bintang dan mentari yang akan selalu bercahaya di lubuk jiwa dengan menjadi bermakna dan bermanfaat bagi sesama…

“ Lalu…bagaimana dengan cinta yang dulu pernah ada??” tanya saya suatu hari.

Perempuan itu berujar, “ Biarkan cinta itu bermuara dengan sendirinya…disaat yang tepat…dengan seorang yang tepat…dan pilihan yang tepat…hanya dari Allah swt, disaat dihalalkannya dua manusia untuk bersatu dalam ikatan pernikahan yang barokah…”

Semoga saja demikian adanya…

readmore »»

Selasa, 28 April 2009

Khadijah Binti Khuwalid ... 0

.
0 komentar

"Dialah wanita yang pertama kali percaya (beriman) kepadaku pada saat orang-orang disekitarku kafir. Dialah wanita yang pertama kali membenarkanku pada saat orang-orang mendustakanku. Dan, dialah satu-satunya wanita yang mengorbankan harta bendanya untukku pada saat orang-orang enggan membantuku." (HR. Imam Ahmad)"

Dia adalah tokoh wanita sedunia pada masanya. Putri Khuwalid bin Asad bin 'Abdul 'Uzza bin Qushay bin Kilab al-Qurasyiyyah al-Asadiyyah. Khadijah dikenal dengan julukan "wanita suci". Ia lahir dan tumbuh dari keluarga terhormat kira-kira lima belas tahun sebelum tahun gajah. Khadijah adalah seorang wanita yang berpikiran tajam, tinggi cita-cita dan mempunyai pribadi yang luhur, sehingga banyak tokoh Quraisy yang menaruh perhatian kepadanya.

Khadijah pernah du kali menikah. Pertama dengan Abu Halah bin Zurarah At-Tamimi yang menurunkan seorang putra bernama Halah dan seorang putri bernama Hindun. Setelah Halah meninggal, Khadijah menikah lagi dengan 'Atiq bin A'idz bin 'Abdullah al-Makhzumi. Pernikahan dengan suami kedua ini tidak berlangsung lama karena akhirnya berpisah.

Selama menjadi seorang janda, banyak tokoh laki-laki meminangnya, tapi semua pinangan itu ditolak dengan sopan, karena ia ingin lebih berkonsentrasi untuk mengasuh anak-anaknya dan mengurus usaha dagangnya, sebab Khadijah adalah seorang saudagar yang kaya. Dia bisa memberi upah kepada kaum laki-laki yang mau meniagakan perdagangan dengan cara bagi hasil.


Ketika sampai kepadanya berita tentang Muhammad - sebelum diangkat menjadi nabi - yang mempunyai sifat jujur, amanah, dan berakhlak mulia. Ia pun mempercayakan kepada Muhamad untuk meniagakan barang dagangannya ke negeri Syam bersama pelayannya, Maisarah. Imbalan yang diberikan kepada Muhamad lebih banyak daripada imbalan yang biasa diberikan kepada orang lain.

Setelah terjadi kesepakatan, berangkatlah Muhammad bersama Maisarah ke negeri Syam. Dengan bimbingan Allah, Muhamad berhasil mendapatkan laba yang besar dan membuat Khadijah sangat gembira. Akan tetapi, sebenarnya kekaguman akan kepribadian Muhamad jauh lebih besar dari pada sekedar kegembiraan laba yang banyak. Sejak saat itu dalam hati Khadijah mulai timbul perasaan simpati yang mendalam terhadap Muhammad, karena Muhammad tidak seperti laki-laki kebanyakan. Namun demikian, ia ragu apakah pemuda jujur dan terpercaya ini tertarik dan mau menikah dengan dirinya yang telah berumur empat puluh tahun atau tidak. Bagaimana pula dia harus bersikap dalam menghadapi kaumnya karena sebelumnya dia pernah menolak pinangan para tokoh Quraisy?.

Pada saat kebingungan bergejolak dalam hati Khadijah datanglah sahabatnya, Nafisah binti Munabih. Khadijah pun mengungkapkan gejolak perasaannya kepada sahabatnya itu. Dengan kecerdasannya, Nafisah pun menghibur dan menenangkan Khadijah seraya mengingatkan bahwa ia adalah seorang wanita yang mempunyai segalanya. Ia terhormat, berketurunan bangsawan, kaya dan cantik. Nafisah menguatkan pendapatnya dengan kenyataan bahwa banyak laki-laki bangsawan yang meminangnya.

Setelah itu Nafisah pergi menemui Muhammad untuk menanyakan langsung perihal perasaan Khadijah kepadanya, Nafisah bertanya kepada Muhammad, "Wahai Muhammad, apa yang menghalangimu untuk menikah?" Muhammad menjawab, "Aku tidak mempunyai apa-apa untuk menikah." Nafisah tersenyum, lalu berkata, "Seandainya ada yang mau mencukupimu dan engkau diminta untuk menikahi seorang wanita yang kaya, cantik, dan terhormat, apakah kamu mau?" Beliau kembali bertanya, "Tetapi siapa dia?" Nafisah segera menjawab, "Khadijah binti Khuwalid," Muhammad menjawab, "Jika ia setuju, aku akan menerima."

Nafisah segera menemui Khadijah untuk menyampaikan kabar gembira tersebut. Sementara itu Muhammad Shalallahu 'Alaihi wa Sallam juga memberitahukan kepada paman-pamannya tentang keinginannya untuk menikah dengan Sayyidah Khadijah. Selanjutnya, Abu Thalib, Hamzah, 'Amr bin Asad, untuk meminang putri saudara 'Amr itu bagi Muhammad dan menyerahkan maharnya.

Ketika akad pernikahannya berlangsung, Khadijah menyembelih beberapa ekor ternak untuk dibagikan kepada fakir miskin. Ia juga mempersilahkan dan mengundang kerabat dan handai taulannya datang ke rumahnya. Di antara manusia yang hadir itu ada Halimah as-Sa'diyah. Ia datang untuk menyaksikan pernikahan anak susuannya.

Setelah selesai, Halimah pun kembali kepada kaumnya dengan membawa empat puluh ekor kambing sebagai hadiah dari Khadijah kepada wanita yang pernah menyusui Muhammad, suaminya tercinta.

Sejak saat itulah tokoh wanita Quraisy yang suci itu resmi menjadi istri Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.

Setelah pernikahannya dengan Muhammad, Wanita yang cerdas ini mencurahkan jerih payahnya demi berbakti kepada sang suami, berbuat baik kepadanya dan membahagiakannya. Maka kehidupan rumah tangga mereka lebih jernih daripada mata air dan lebih lembut daripada hembusan angin di waktu sahur.

Sungguh menakjubkan keadaan seorang wanita yang merasakan kebahagiannya terletak pada upaya membahagiakan suaminya.

Betapa kecerdasannya itu benar-benar terbukti saat hatinya membisikan kepadanya bahwa kelak suaminya menjadi nabi umat ini.

Suatu hari ia berdiri di depan rumahnya untuk menanti kepulangan Rasulullah saw. lalu ia memegang tangan beliau dan merangkulnya ke dadanya seraya berkata, "Bapak dan Ibuku sebagai tebusannya, demi Allah aku tidak melakukan ini melainkan aku berharap engkau akan menjadi seorang Nabi yang diutus Allah."

Khadijah pun akhirnya menjadi teladan paling agung dan paling mengagumkan sebagai seorang isteri yang mencintai suaminya. Khadijah rela mengorbankan kepentingan pribadinya demi orang yang dicintainya.

Dalam setiap langkah perjuangan Rasulullah saw. terutama pada masa-masa krisis, yaitu ketika siksaan kaum Quraisy datang silih berganti menerpanya, datanglah dua wanita yang setia mendampingi dan membela Rasulullah saw. Mereka itu adalah Khadijah binti Khuwalid dan Fatimah binti Asad. Karena pengorbanannya yang tidak sedikit itulah, Khadijah dianggap sebagai teladan sepanjang zaman.

Bagaimana tidak, dialah yang telah menyediakan Rasulullah saw. sebelum diutus sebagai Rasul - rumah sejuk dan damai. Dialah yang membantu Rasulullah saw dalam mempersiapkan bekalnya selama berkhalwat di gua Hira. Bukan hanya itu, dialah orang yang telah mengorbankan seluruh hartanya untuk perjuangan Rasulullah saw. Sungguh, suatu pengorbanan dan pengabdian yang sangat mulia.

Pada malam turunnya wahyu, pada saat malaikat Jibril datang dengan bentuk aslinya untuk membacakan wahyu pertama. Rasulullah saw diliputi ketakutan yang mencekam sampai tiba di rumahnya. Pada saat itulah Khadijah bergegas menyambut beliau seraya bertanya, "Wahai Bapak Qasim (Rasulullah saw) dari mana engkau? Sesungguhnya, saya telah mengutus beberapa orang keliling kota Mekkah untuk mencari engkau." Setelah mendengar cerita Rasulullah, Khadijah berkata, "Berbahagialah wahai putra pamanku. Demi Allah, sesungguhnya saya yakin bahwa engkaulah nabi bagi umat ini."

Tidak tampak dari perkataan Khadijah sedikit keraguan, bahkan dengan penuh keyakinan dia berusaha menghibur dan meneguhkan hati Rasulullah saw. Demikianlah sosok istri mulia, yang mengerti keadaan suami dan tahu persis bagaimana harus bersikap.

Dalam salah satu sabdanya, Rasulullah memuji Khadijah seraya berkata. "Dialah wanita yang pertama kali percaya (beriman) kepadaku pada saat orang-orang disekitarku kafir. Dialah wanita yang pertama kali membenarkanku pada saat orang-orang mendustakanku. Dan, dialah satu-satunya wanita yang mengorbankan harta bendanya untukku pada saat orang-orang enggan membantuku." (HR. Imam Ahmad)

Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain dalam mencari wanita teladan selain Khadijah binti Khuwalid, ummu mu'minin, istri yang taat dan patuh terhadap sang suami yang telah memberi kepada Rasulullah saw bukan hanya kasih sayangnya, melainkan juga harta dan keluarganya demi perjuangan Rasulullah saw.

Atas pengabdian dan pengorbanannya yang tidak sedikit ini, Allah swt. membalasnya dengan memberi kabar gembira yang disampaikan melalui malaikat Jibril - bahwa Allah swt. telah menyiapkan sebuah istana di surga buat Khadijah.

Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu berkata bahwa malaikat Jibril berkata pada Rasulullah, "Wahai Rasulullah, Khadijah akan datang kepadamu dengan membawa makanan, lauk pauk, dan minuman. Apabila dia datang nanti, sampaikan salam Allah dan salamku kepadanya. Kabarkan kepadanya bahwa Allah telah menyiapkan sebuah istana yang terbuat dari permata untuknya, sebuah istana yang sejuk dan damai." (HR. Bukhari)

Rasulullah datang menghampiri seraya berkata, "Wahai Khadijah, malaikat Jibril baru datang menyampaikan salam Allah buatmu," Khadijah menjawab, "Bagi Allah dan malaikat-Nya keselamatan dan dari-Nya lah keselamatan (datang)."

Kedudukan yang didapatkan Khadijah - sebagaimana hadis di atas adalah suatu kemuliaan tersendiri baginya yang belum pernah didapatkan oleh siapapun. Hal itu dikarenakan kesetiaannya dan keteguhannya dalam membela dakwah Rasulullah, khususnya pada tahun-tahun pertama diturunkannya wahtu. Dan, sosok Khadijah adalah salah satu anugrah Allah swt yang diberikan kepada Rasulullah.

Seperempat abad lamanya Khadijah mendampingi perjuangan Rasulullah sebagai seorang istri yang setia, taat dan tulus. Dia korbankan seluruh hartanya, bahkan dirinya demi perjuangan sang suami tercinta.

readmore »»

Kisah Pemuda Arab yang Tinggal di Amerika 0

.
0 komentar

Ada seorang pemuda arab yang baru saja me-nyelesaikan bangku kuliahnya di Amerika. Pemuda ini adalah salah seorang yang diberi nikmat oleh Allah berupa pendidikan agama Islam bahkan ia mampu mendalaminya.

Selain belajar, ia juga seorang juru dakwah Islam. Ketika berada di Amerika , ia berkenalan dengan salah seorang Nasrani. Hubungan mereka semakin akrab, dengan harapan semoga Allah SWT memberinya hidayah masuk Islam.

Pada suatu hari mereka berdua berjalan-jalan di sebuah perkampungan di Amerika dan melintas di dekat sebuah gereja yang terdapat di kampung tersebut. Temannya itu meminta agar ia turut masuk ke dalam gereja.
Semula ia berkeberatan. Namun karena ia terus mendesak akhirnya pemuda itupun memenuhi permintaannya lalu ikut masuk ke dalam gereja dan duduk di salah satu bangku dengan hening, sebagaimana kebiasaan mereka. Ketika pendeta masuk, mereka serentak berdiri untuk memberikan penghor-matan lantas kembali duduk.

Di saat itu si pendeta agak terbelalak ketika meli-hat kepada para hadirin dan berkata, "Di tengah kita ada seorang muslim. Aku harap ia keluar dari sini." Pemuda arab itu tidak bergeming dari tempatnya.
Pendeta tersebut mengucapkan perkataan itu berkali-kali, namun ia tetap tidak bergeming dari tempatnya. Hingga akhirnya pendeta itu berkata, "Aku minta ia keluar dari sini dan aku menjamin keselamatannya. " Barulah pemuda ini beranjak keluar.

Di ambang pintu ia bertanya kepada sang pen-deta, "Bagaimana anda tahu bahwa saya seorang mus-lim." Pendeta itu menjawab, "Dari tanda yang terdapat di wajahmu." Kemudian ia beranjak hendak keluar. Namun sang pendeta ingin memanfaatkan keberadaan pemuda ini, yaitu dengan mengajukan beberapa pertanyaan, tujuannya untuk memojokkan pemuda tersebut dan sekaligus mengokohkan markasnya. Pemuda muslim itupun menerima tantangan debat tersebut.


Sang pendeta berkata, "Aku akan mengajukan kepada anda 22 pertanyaan dan anda harus menja-wabnya dengan tepat." Si pemuda tersenyum dan berkata, "Silahkan!"


Sang pendeta pun mulai bertanya,
1. Sebutkan satu yang tiada duanya,
2. dua yang tiada tiganya,
3. tiga yang tiada empatnya,
4. empat yang tiada limanya,
5. lima yang tiada enamnya,
6. enam yang tiada tujuhnya,
7. tujuh yang tiada delapannya,
8. delapan yang tiada sembilannya,
9. sembilan yang tiada sepuluhnya,
10. sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh,
11. sebelas yang tiada dua belasnya,
12. dua belas yang tiada tiga belasnya,
13. tiga belas yang tiada em-pat belasnya.
14. Sebutkan sesuatu yang dapat bernafas namun tidak mempunyai ruh!
15. Apa yang dimaksud dengan kuburan berjalan membawa isinya?
16. Siapakah yang berdusta namun masuk ke dalam surga?
17. Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah namun Dia tidak menyukainya?
18. Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dengan tanpa ayah dan ibu!
19. Siapakah yang tercipta dari api, siapakah yang diadzab dengan api dan
siapakah yang terpelihara dari api?
20. Siapakah yang tercipta dari batu, siapakah yg diadzab dengan batu dan
siapakah yang terpelihara dari batu?
21. Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap besar!
22. Pohon apakah yang mempu-nyai 12 ranting, setiap ranting mempunyai 30
daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah naungan dan dua di bawah
sinaran matahari?"

Mendengar pertanyaan tersebut pemuda itu tersenyum dengan senyuman mengandung keyakinan kepada Allah.

Setelah membaca basmalah ia berkata,

1. Satu yang tiada duanya ialah Allah SWT.

2. Dua yang tiada tiganya ialah malam dan siang.. Allah SWT berfirman, "Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran kami)." (Al-Isra': 12)..

3. Tiga yang tiada empatnya adalah kekhilafan yang dilakukan Nabi Musa ketika Khidir menenggelamkan sampan, membunuh seorang anak kecil dan ketika menegakkan kembali dinding yang hampir roboh.

4. Empat yang tiada limanya adalah Taurat, Injil, Zabur dan al-Qur'an.

5. Lima yang tiada enamnya ialah shalat lima waktu.

6. Enam yang tiada tujuhnya ialah jumlah hari ke-tika Allah SWT menciptakan makhluk.

7. Tujuh yang tiada delapannya ialah langit yang tujuh lapis. Allah SWT berfirman, "Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang." (Al-Mulk: 3).

8. Delapan yang tiada sembilannya ialah malaikat pemikul Arsy ar-Rahman. Allah SWT berfirman,"Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit.. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung 'Arsy Rabbmu di atas kepala) mereka." (Al-Haqah: 17).

9. Sembilan yang tiada sepuluhnya adalah mu'jizat yang diberikan kepada Nabi Musa : tongkat, tangan yang bercahaya, angin topan, musim paceklik, katak, darah, kutu dan belalang dan ****

10. Sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh ialah kebaikan. Allah SWT berfirman, "Barangsiapa yang berbuat kebaikan maka untuknya sepuluh kali lipat." (Al-An'am: 160).

11. Sebelas yang tiada dua belasnya ialah jumlah saudara-saudaraYusuf

12. Dua belas yang tiada tiga belasnya ialah mu'jizat Nabi Musa yang terdapat dalam firman Allah, "Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, 'Pukullah batu itu dengan tongkatmu.' Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air." (Al-Baqarah: 60).

13. Tiga belas yang tiada empat belasnya ialah jumlah saudara Yusuf ditambah dengan ayah dan ibunya.

14. Adapun sesuatu yang bernafas namun tidak mempunyai ruh adalah waktu Shubuh.
Allah SWT ber-firman, "Dan waktu subuh apabila fajarnya mulai menying-sing. "(At-Takwir: 18).

15. Kuburan yang membawa isinya adalah ikan yang menelan Nabi Yunus AS.

16. Mereka yang berdusta namun masuk ke dalam surga adalah saudara-saudara Yusuf , yakni ketika mereka berkata kepada ayahnya, "Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala." Setelah kedustaan terungkap, Yusuf berkata kepada mereka," tak ada cercaaan ter-hadap kalian." Dan ayah mereka Ya'qub berkata, "Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

17. Sesuatu yang diciptakan Allah namun tidak Dia sukai adalah suara keledai. Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya sejelek-jelek suara adalah suara keledai." (Luqman: 19).

18. Makhluk yang diciptakan Allah tanpa bapak dan ibu adalah Nabi Adam, malaikat, unta Nabi Shalih dan kambing Nabi Ibrahim.

19. Makhluk yang diciptakan dari api adalah Iblis, yang diadzab dengan api ialah Abu Jahal dan yang terpelihara dari api adalah Nabi Ibrahim. Allah SWT berfirman, "Wahai api dinginlah dan selamatkan Ibrahim." (AlAnbiya': )

20. Makhluk yang terbuat dari batu adalah unta Nabi Shalih, yang diadzab dengan batu adalah tentara bergajah dan yang terpelihara dari batu adalah Ash-habul Kahfi (penghuni gua).

21. Sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap perkara besar adalah tipu daya wanita, sebagaimana firman Allah SWT, "Sesungguhnya tipu daya kaum wanita itu sangatlah besar." (Yusuf: 28).

22. Adapun pohon yang memiliki 12 ranting setiap ranting mempunyai 30 daun,setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah teduhan dan dua di bawah sinaran matahari maknanya: Pohon adalah tahun, ranting adalah bulan, daun adalah hari dan buahnya adalah shalat yang lima waktu, tiga dikerjakan di malam hari dan dua di siang hari.

Pendeta dan para hadirin merasa takjub mende-ngar jawaban pemuda muslim tersebut. Kemudian ia pamit dan beranjak hendak pergi. Namun ia mengurungkan niatnya dan meminta kepada pendeta agar menjawab satu pertanyaan saja. Permintaan ini disetujui oleh sang pendeta.

Pemuda ini berkata, "Apakah kunci surga itu?"

Mendengar pertanyaan itu lidah sang pendeta menjadi kelu, hatinya diselimuti keraguan dan rona wajahnya pun berubah. Ia berusaha menyembunyikan kekhawatirannya, namun hasilnya nihil.

Orang-orang yang hadir di gereja itu terus mendesaknya agar menjawab pertanyaan tersebut, namun ia berusaha mengelak.

Mereka berkata, "Anda telah melontarkan 22 pertanyaan kepadanya dan semuanya ia jawab, sementara ia hanya memberimu satu pertanyaan namun anda tidak mampu menjawabnya! "

Pendeta tersebut berkata,
"Sungguh aku mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut, namun aku takut kalian marah.

" Mereka menjawab, "Kami akan jamin keselamatan anda."

Sang pendeta pun berkata,
"Jawabannya ialah:
"Asyhadu an La Ilaha Illallah wa Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah."

Lantas sang pendeta dan orang-orang yang hadir di gereja itu memeluk agama Islam.
Sungguh Allah telah menganugrahkan kebaikan dan menjaga mereka dengan Islam melalui tangan seorang pemuda muslim yang bertakwa.


Kaum yang berpikir (termasuk para pendeta) sedianya telah mengetahui bahwa Islam adalah agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan akan menjaga manusia dalam kesejahteraan baik di dunia dan di akherat..
Apa yang menyebabkan hati-hati para pendeta itu masih tertutup bahkan cenderung mereka sendiri yang menutup rapat jiwanya..

readmore »»

Minggu, 26 April 2009

Anakmu adalah Cermin dirimu 0

.
0 komentar

Seorang lelaki tua yang baru ditinggal mati isterinya tinggal bersama anaknya, Arwan dan menantu perempuannya, Rina, serta cucunya, Viva yang baru berusia enam tahun. Tangan lelaki tua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih.

Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah. Sebenarnya dia merasa malu seperti itu di depan anak menantu, tetapi dia gagal menahannya. Oleh karena kerap sekali dilirik menantu, selera makannyapun hilang. Dan tatkala dia memegang gelas minuman, pegangannya terlepas. Praaaaaannnnngggggg !! Bertaburanlah serpihan gelas di lantai dan minuman itu tumpah membasahitaplak.

Pak tua menjadi serba salah. Dia bangun, mencoba memungut serpihan gelas itu, tapi Arwan melarangnya. Rina cemberut, mukanya masam. Viva merasa kasihan melihat kakeknya, tapi dia hanya dapat melihat untuk kemudian meneruskan makannya.

Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. "Kita harus lakukan sesuatu, ujar sang istri. "Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk pak tua ini."

"Esok ayah tak boleh makan bersama kita," Viva mendengar ibunya berkata pada kakeknya, ketika kakeknya beranjak masuk ke dalam kamar. Arwan hanya membisu. Sempat anak kecil itu memandang tajam ke dalam mata ayahnya.

Demi memenuhi tuntutan Rina, Arwan membelikan sebuah meja kecil yang rendah, lalu diletakkan di sudut ruang makan. Di situlah ayahnya menikmati hidangan sendirian, sedangkan anak menantunya makan di meja makan. Karena sering memecahkan piring,keduanya juga memberikan piring kayu & gelas bambu untuk si kakek. Viva juga dilarang apabila dia merengek ingin makan bersama kakeknya.

Air mata lelaki tua meleleh mengenang nasibnya diperlakukan demikian. Ketika itu dia teringat kampung halaman yang ditinggalkan. Dia terkenang arwah isterinya. Lalu perlahan-lahan dia berbisik: "buruk benar perlakuan anak kita ."

Sejak itu, lelaki tua merasa tidak betah tinggal di situ. Sering saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi.

Suatu malam, Viva terperanjat melihat kakeknya makan menggunakan piring kayu, begitu juga gelas minuman yang dibuat dari bambu. Dia mencoba mengingat-ingat, dimanakah dia pernah melihat piring seperti itu. "Oh! Ya..." bisiknya. Viva teringat, semasa berkunjung ke rumah sahabat papanya dia melihat tuan rumah itu memberi makan kucing-kucing mereka menggunakan piring yang sama!

"Tak akan ada lagi yang pecah, kalau tidak begitu, nanti habis piring dan mangkuk ibu," kata Rina apabila anaknya bertanya.

Seminggu kemudian, sewaktu pulang bekerja, Arwan dan Rina terperanjat melihat anak mereka sedang bermain dengan kepingan-kepingan kayu. Viva seperti sedang membuat sesuatu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. "Kamu sedang membuat apa?". Anaknya menjawab, "Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu untuk makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat tempat kakek biasa makan." Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.

Begitu mendengar jawaban anaknya, Arwan terkejut. Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Perasaan Rina terusik. Kelopak mata kedua-duanya basah. Jawaban Viva menusuk seluruh jantung, terasa seperti diiiris pisau. Mereka tersentak, Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki, selama ini mereka telah berbuat salah !

Malam itu Arwan menuntun tangan ayahnya ke meja makan. Rina menyendokkan nasi dan menuangkan minuman ke dalam gelas. Nasi yang tumpah tidak dihiraukan lagi.

Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama.


MORAL OF THE STORY


Teman, anak-anak adalah persepsi dari kita. Mata mereka akan selalu mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan.

Mereka adalah peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa kelak. Orangtua yang bijak, akan selalu menyadari, setiap "bangunan jiwa" yang disusun, adalah pondasi yang kekal buat masa depan anak-anak.

Mari, susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk anak-anak kita, untuk masa depan kita, untuk semuanya. Sebab, untuk mereka lah kita akan selalu belajar, bahwa berbuat baik pada orang lain, adalah sama halnya dengan tabungan masa depan

readmore »»

Selasa, 24 Maret 2009

Buah dari Pengorbanan Cinta 0

.
0 komentar

Adalah seorang ikhwan yang kuliah di Salah satu Universitas Islam di negeri ini. Sebagai mahasiswa tentunya haus akan ilmu maka untuk memenuhi semua itu ikhwan tersebut pun membiasakan dirinya untuk pergi ke sebuah perpustakaan. Terhitung hampir tidak pernah absen dia membaca di perpustakaan tersebut. Sepertinya ia telah menjadikan "gudang buku" itu sebagai kampus keduanya.

Bersamaan itu pula hadirlah seorang akhwat yang juga kerapkali datang ke perpustakaan yang sama. Saking seringnya, mereka pun saling mengenal meskipun hanya sebatas mengenal wajah. Karena mereka berdua tidak pernah mengadakan komunikasi, baik itu secara langsung atau hanya sekedar komunikasi lewat satelitpun tidak pernah, mungkin mereka sadar dan paham betul apa yang telah disyari'atkan dalam agama.



Pertemuan yang berulang menumbuhkan benih-benih cinta di dalam hati mereka berdua. Sesuatu yang wajar memang, karena cinta adalah salah satu anugerah yang diberikan Allah kepada setiap hamba-Nya, namun cinta itu harus ditempatkan sesuai dengan ketentuan agama.

Beribu perasaan yang ada di dalam hati ikhwan tadi ketika dia bertemu dengan si akhwat yang telah menjadi pujaan hatinya. Begitu pula sebaliknya, perasaan akhwat yang teramat halus itu malu untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam dadanya. Lagi-lagi karena batasan agamalah yang menyebabkan mereka memendam cinta yang tengah bersemi. Hanya Allah dan dirinya sajalah yang tau akan keadaan hati mereka masing-masing.

Suatu hari, ayah sang akhwat jatuh sakit dan harus berobat ke salah seorang dokter yang masih muda dan perjaka. Entah bernadzar atau apa, ketika ayahnya sudah sembuh dari sakitnya itu, dia pun menawarkan kepada sang dokter tersebut putri kesayangannya untuk dinikahi olehnya. Setelah dipikirkan, si dokter pun menyetujuinya. Adapun si akhwat, karena ingin menjadi anak yang sholehah yang dapat berbakti kepada ayahnya itu,meskipun harus tegar untuk menghilangkan cinta yang "semu" terhadap salah seorang ikhwan yang hanya dia kenal sekilas saja.

Persaannya mengatakan bahwa dia adalah seorang lelaki yang taat dan patuh terhadap ajaran agama. Ia teryakinkan oleh perasaannya itu setelah sekian waktu sang ikhwan mampu menampilkan sosok pria yang terjaga, hingga tampaknya banyak kata dan rasa yang hanya ia telan karena menjaga diri untuk tidak berikhtilat.

Acara pernikahanpun akhirnya direncanakan, mulai dari hari pelaksanaan, tempat, bahkan kartu undangan pun sudah mulai tersebar.

Kemudian mengenai si ikhwan, tak tau darimana surat undangan pernikahan itu pun sampai di tangannya. Tak bisa dibayangkan ketika dia mengetahui bahwa yang akan menikah itu adalah akhwat yang selama ini menjadi bunga mimpinya, akhwat yang membuatnya gundah gulana ketika mengingatnya, bahkan mungkin dia pun berniat untuk menikahinya walaupun dia tidak begitu mengenal asal-usul sang akhwat.

Tapi semua itu seakan hanyalah sesuatu yang tak mungkin untuk dihentikan. Dia sadar, dia tak mungkin melawan kehendak Rabb-Nya, yang bisa ia lakukan hanyalah mencucurkan air mata, ya air mata yang berasal dari cinta yang tulus.

Hari pernikahan pun tiba. Saat itu bertepatan dengan hari ujian. Perasaan tak menentu terus bergejolak di dalam batinnya.

Di dalam ruang ujian, sang ikhwan melayangkan pikirannya kepada akhwat yang sedang melaksanakan pesta pernikahan. Sampai akhirnya ia tak kuasa menahan air matanya kemudian ia pun keluar meninggalkan ruang ujian tanpa menjawah satu soal pun. Sementara itu, di tempat pernikahan para tamu undangan sudah mulai berdatangan. Sanak saudara, kerabat, mulai berkumpul dan memenuhi ruangan. Alangkah syahdu suasana saat itu.

Tetapi pengantin pria belum juga kunjung tiba. Sang ayah mulai merasa gelisah, jangan-jangan terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Ia pun langsung menghubungi calon mertuanya itu. Dan betapa kagetnya! ketika sang ayah mendengar bahwa si pengantin pria berada di tempat yang jauh sekali, yaitu di tempat asal kelahirannya di salah satu kepulauan Sumatera. Dan yang lebih mengecewakannya lagi bahwa Dokter itu membatalkan pernikahan dengan alasan tidak ada persetujuan keluarga dikarenakan perbedaan adat.

Langsung saja ia menghampiri putrinya dan menceritakan kejadian yang sebenarnya, si akhwat hanya bisa tertegun dan menangis, akhirnya sang ayah berkata kepadanya, "Putriku, sekarang siapakah laki-laki yang paling kamu cintai, bawakan kepadaku sekarang juga." Bagaimana dia harus menjawab, walau hatinya tertuju pada seorang ikhwan, tapi itu tidak mungkin karena dia pun tak tau dimana laki-laki yang menjadi cinta "semu"nya itu berada.

Tetapi Allah Maha Kuasa, ketika itu sahabat baiknya si akhwat berkata, "Sahabatku, tahukah kamu ikhwan yang selalu bertemu setiap kali kita ke perpustakaan?" dia mengangguk sebagai tanda jawaban, lalu sahabatnya pun kembali berkata, "Dia ada disini!" "Di mana...?" Tanya sang ayah. "Dia berada di tengah-tengah para tamu undangan".

Tak banyak bicara, sang ayah pun keluar mencari laki-laki yang dimaksudkan oleh sahabat putrinya tersebut.

Di luar, terlihat ada seorang laki-laki yang duduk di kursi belakang, tampak di wajahnya sisa air mata kesedihan, sang ayah langsung menghampiri si ikhwan itu dan...
"Benarkah kamu fulan bin fulan?" "Ya, jawabnya datar. "Maukah kamu menikahi putriku?" Sebuah pertanyaan yang membuat seluruh badannya bergetar, sesuatu yang dipikirnya tidak mungkin terjadi ternyata terjadi. Dan akhirnya ikhwan dan akhwat itu pun menikah, setelah menghadapi proses dalam memperjuangkan sebuah cinta yang harus ditangguhkan, sebelum cintanya itu benar-benar disatukan dalam satu jalinan yang suci dan halal.

Demikian akhir dari cerita teman tadi, yang terlintas dalam pikiran bahwa mereka berdua diberikan kekuatan untuk bisa meredam cinta. Ketika cinta sedang bersemi di dalam sanubari tapi ketika itu pula cinta harus mereka redam maka sadarlah bahwa semua itu adalah Qodar dari Allah swt, Dia lebih tahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya karena Dia jualah yang memberikan cinta tersebut.

readmore »»
 

Top Komentator

Widget edited by Capricorn Girl

Twitter_ku

NetworkedBlogs

Celoteh....


ShoutMix chat widget